Kilas Sejarah Depok, ‘Keramat Sambi’ yang Terabaikan

Depok | Dalam sejarah, Depok ternyata memiliki seorang tokoh masyarakat yang masih keturunan Raden Walangsungsang yang bergelar prabu cakra buana atau mbah kuwu cirebon yang tidak lain masih anak dari Prabu Siliwangi, keturunannya memanggil dengan sebutan Mpi Siun.

Mpi Siun dikenal oleh keturunannya sebagai bengkong (tukang sunat) dan merupakan salah satu penyebar agama islam. Kini, makam leluhurnya itu sedang diperjuangkan agar tak tergusur oleh proyek pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) oleh Kementrian Agama.

Situs makam ‘Keramat Sambi’ namanya, ada 3 makam didalamnya yakni Mpi Siun, pengawal Mpi Siun dan Istri terakhirnya. Menurut cerita sejarahwan yang juga keturanannya menjelaskan, nama ‘Keramat Sambi’ berasal dari pohon Sambi yang tumbuh disekitar makam. Kemudian, warga setempat mengaitkannya dengan kata keramat sehingga nama ‘Keramat Sambi’ muncul secara alamiah.

Daerah tersebut, bernama bojong malaka karena, disekitarnya banyak terdapat pohon malaka yang kini sudah tidak ada lagi.

Taam Sumarna (80) menceritakan, dahulunya disekitar makam itu terdapat pemukiman warga yang akhirnya harus terpaksa digusur dengan alasan warga setempat menganut paham komunis (PKI) yang dalam versi lainnya, perkampungan itu disebut tergusur karena, adanya perluasan lahan pemancar RRI.

“Mpi Siun itu kalo sekarang mah disebutnya tokoh masyarakat, dulu nyebarin agama islam,” ungkap Kong Taam, panggilan sopan untuk dirinya.

“Disitu perkampungan, tapi digusur dengan alasan warga disitu PKI katanya, padahal yang PKI itu cuma satu orang, pernah juga waktu itu kebakar pohon disekitar makam, sekelilingnya hangus terbakar cuma pohon sambi itu aja yang gak kebakar,” ceritanya dengan sedikit terbata-bata.

Setelah berpamitan dengan Kong Aam, kami berhasil menemui saksi sejarah selanjutnya, Ma Indun panggilan akrabnya yang berusia 77 tahun.

Dipaparkannya dengan sedikit wajah sedih, kala itu Ia sempat menyaksikan perang disekitar tempat tinggalnya sekarang yang pada jaman dahulu sering dijadikan tempat kumpul ‘Jawara Betawi’.

Ma Indun mengakui, jika memang tidak sempat bertemu dengan Mpi Siun semasa hidupnya, mengapa tidak Ma Indun dan Kong Taam adalah generasi kelima dari Mpi Siun namun, Ma Indun sering diceritakan perjalanan leluhurnya itu oleh Haji Tinggi panggilan akrab ayah kandungnya.

Diceritakan ayahnya, Mpi Siun adalah sosok berkuda yang turut menyebarkan agama islam di daerah yang sekarang kita kenal dengan nama Kota Depok.

“Dulu Bapak sering bilang Mpi Siun sebagai penyebar agama islam kalo kemana-mana suka naik kudanya,” kenang Mpi Siun.

Bahkan, Haji Tinggi berdasarkan cerita Ma Indun pernah memenangkan sayembara yang diadakan Belanda, dalam sayembara itu pribumi ditantang untuk memegang bom dan berdiri di jembatan (penyambung Jalan Nangka dan Dinas PUPR Kota Depok, red) dengan syarat jembatan dan pemegang bom tetap dalam keadaan utuh.

Haji Tinggi berhasil memenangkan sayembara itu meski tak mendapat imbalan seperti apa yang dijanjikan Belanda, Haji Tinggi hanya ingin menunjukan bahwa pribumi dapat melewati tantangan tersebut.

Senja itu, kami bergegas meninggalkan Ma Indun dan keluarga dilanjutkan dengan berziarah ke makam ‘Keramat Sambi’, inilah tempat yang sudah tim kami nantikan.

suarakotanews JCP

Melewati Jalan Juanda, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok tak jauh dari sana kami memasuki sebuah Jalan kecil berkelok dengan bebatuan akibat rusaknya jalanan yang tak diperhatikan Pemerintah setempat, setelah sekitar 200 Meter kami tempuh, terlihat sebuah bangunan megah yang kini tengah dalam proses pekerjaan.

 

Tak lain tak bukan, ialah UIII yang kami maksud tadi, pembangunan itu sekaligus jadi latar belakang pemandangan kami setelah sampai di situs makam ‘Keramat Sambi’.

 

Hal tersebut adalah masalah bagi Padepokan Muda Satria Betawi yang selama ini merawat serta menjaga situs itu, pasalnya mereka memiliki masalah soal kepemilikan tanah.

 

“Kita takutnya, makam ini tersentuh oleh pembangunan UIII,” kata Ketua Padepokan Muda Satria Betawi, Ahmad Sastra.

 

Sastra berpaling, menyediakan kami kopi hitam yang dibuat oleh tangannya sendiri seakan menandakan perbincangan ini akan semakin dalam namun, dirinya ingin mengemas lebih santai.

 

“Kalo situs makam keramat sambi ini sampai digusur atau direlokasi maka nilai sejarahnya akan hilang,” sebut Sastra usai menenggak kopi buatannya, Kamis (30/07) sore.

 

Kemudian, Sastra menunjukan ‘patok merah’yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari pagar makam ‘Keramat Sambi’ menurutnya, itu adalah tanda sejauh mana pembangunan itu akan berdiri megah.

 

Sebelum pulang, kami dipersilahkan melihat makam tua yang dibuat dengan gaya indoor (dalam ruangan) itu adalah makam Mpi Siun begitulah Sastra memanggilnya.

 

Seribu sayang, kami tak diperbolehkan mengambil gambar karena, menurut kepercayaan mereka Mpi Siun tidak menyukai apa yang hendak kami perbuat.

 

Namun, Sastra membeberkan berbagai upaya telah Ia lakukan, salah satunya beraudiensi dengan Komisi D, DPRD Kota Depok terkait apa yang sedang diperjuangkan dengan harapan sampai di meja kerja Wali Kota Depok yakni Mohammad  Idris yang juga masih bersuku Betawi.

 

Sesudah adzan magrib berkumandang, kami berpamitan dengan beberapa anggota Padepokan Muda Satria Betawi yang berkesempatan hadir.

 

Tak lama dari itu, melalui aplikasi berbagi whatsapp kami mendapatkan kabar dari salah satu tokoh masyarakat yang tinggal di Kelurahan Cisalak, Kota Depok.

 

Daniel Pelupessy namanya, Ia juga mengharapkan agar Pemerintah dapat memperhatikan apa yang kini tengah mereka perjuangkan.

 

“Saya berharap agar keramat sambi dapat diperhatikan oleh Pemerintah sehingga kelak dapat menjadi cagar budaya,” pesan Daniel Pelupessy kepada kami. (Gerard Soeharly)

 

 

 

SuaraKotanews

Media Online dan Cetak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *