Mengintip Sejarah Singkat Peter A Rohi, Tokoh Pers Asal NTT

Depok | Tokoh pers Peter Apolinaris Rohi atau Petu Rohi sapaan akrabnya, dikabarkan meninggal karena menderita penyakit komplikasi paru-paru dan stroke di Rumah Sakit Katolik ST Vincentius a Paulo (RKZ) Surabaya, Rabu (10/6) silam.

Dalam doa bersama mengenang berpulangnya Peter A Rohi di Sabu Raijua, NTT, Julius menceritakan sejarah singkat Petu Rohi.

“Saya juga wartawan yang kenal opa pada tahun 2015 lalu, saat opa ke sabu untuk merenovasi kuburan perintis kemerdekaan asal sabu Julian Hendrik atau nama sabu nya Ludji He,” kata Julius kepada suarakotanews.com

“Sebagai anak sabu bangga terhadap opa dan saya anggap opa sebagai orang tua saya sendiri,” lanjutnya, Selasa (16/6).

Berbeda dengan tokoh pers lainnya, tak banyak yang mengenal sosok penerima Golden Card sebagai Wartawan Utama dari dewan pers itu, Petu Rohi mengawali karir jurnalistiknya usai mengundurkan diri dari kesatuan TNI Batalyon Tank Amfibi (KKO) pada tahun 1970.

“Pengalaman karir jurnalsitiknya malang-melintang di Tanah Air, pernah menjadi Wartawan Sketmasa, lalu Redaktur Sinar Harapan, Pikiran Rakyat, Redaktur Pelaksana Jayakarta, Wartawan Surya, Redaktur Pelaksana Surya Bangsa,” beber Julius.

Selain itu, Petu Rohi juga sempat menjadi Pemimpin Redaksi Harian Indonesia dan Surya Bangsa, ikut membangun Suara Pembaruan serta merintis kembali koran raksasa Sinar Harapan yang pernah dibredel semasa pemerintahan Presiden Soeharto.

Bahkan, dimasa itu Petu Rohi pernah dikirimi potongan kepala manusia yang masih berlumur darah dan hal itu, dianggap sebagai teror dalam karirnya sebagai Jurnalis.

Meski demikian, Peter A Rohi tampak acuh dalam hal tersebut dan tetap menjunjung tinggi sifat idelismenya sebagai Wartawan.

“Wartawan menjadi mahkluk langka dalam masa kepemimpinan Soeharto, Opa juga pernah dikirimi potongan kepala manusia yang masih berlumur darah dimasa pemerintahan Presiden Soeharto,” ungkap Julius.

Wartawan yang diberikan tugas oleh Petu Rohi untuk mengawal pembangunan Monemen Julian Hendrik / Ludji He itu, menjelaskan Peter A Rohi memiliki data lengkap mengenai tokoh asal NTT yang turut berperan dalam kemerdekaan Republik Indonesia, Hendrik Julian asal Sabu Raijua yang memimpin pemberontakan diatas kapal perang belanda De Seven Provincien (Kapal 7) tahun 1933.

Selain karir jurnalistiknya, disebutkan Julius, Petu Rohi dikenal sebagai penulis buku melalui tangannya, sudah puluhan buku yang Ia tulis.

Salah satunya ialah menulis buku “Kako Lami Angalai?” mengisahkan Riwu Ga, pemuda asal NTT yang mendapat gelar ‘Terompet Proklamasi’, dimana Riwu Ga adalah pengagum Soekarno lalu, menjadi pengawal pribadi, selalu ikut kemanapun Presiden pertama RI itu pergi, termaksud membacakan naskah proklamasi, hingga akhirnya Riwu keliling Jakarta untuk mengumumkan bahwa Indoensia sudah merdeka.

Namun, setelah merdeka Riwu Ga terpisahkan dari Soekarno, hal ini disebabkan oleh jabatan presiden yang telah dienyam Soekarno sehingga untuk pengawalan harus resmi berdasarkan aturan kenegaraan.

“Riwu sekarang saya sudah jadi Presiden, semuanya diatur oleh negara, bila bepergian juga semua diatur,” kata Soekarno kepada Riwu Ga dalam buku yang ditulis Petu Rohi tersebut.

Sementara itu putra sulung Peter A Rohi, Engelbert Johannes Rohi menyebut, kiranya apa yang telah dilakukan Ayahnya mampu menginspirasi banyak orang.

“Tentu sebagai manusia biasa, Papa banyak kekurangannya. Namun semoga hanya kenangan manis yang tersimpan dan semoga kenangan itu bisa menginspirasi generasi selanjutnya,” ujar Jojo Rohi panggilan akrabnya.

Dalam beberpa media massa yang turut memberitakan kepergian sang tokoh pers Indonesia itu, turut mencantumkan kata emas miliknya.

“Hutan sudah berkorban banyak untuk kita. Untuk kertas koran, berapa hektar hutan yang dikorbankan? Jadi, jangan pernah sia-siakan pengorbanan itu dengan memunculkan berita sampah di surat kabar,”kata Peter yang dimuat berbagai media massa. (Gerard Soeharly)

SuaraKotanews

Media Online dan Cetak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *